Sebelum terlambat
Aku tak suka kamu
Hati ini bukan milikmu
Terserah apa mau mu lakukanlah sesukamu
Asal itu menurutmu benar ,
Kala itu engkau hanya memandang tanpa sepatah kata
Kutahu engkau juga sama dengan ku
Demi mereka … ya demi mereka kita jalani ini
Aku tidak mengerti maunya mereka
Apa kamu juga mengerti
Entah , tapi sorot matamu bercerita banyak
Kini ,
Bukan hanya aku dan kamu
Juan ada bersama kita ,
dan Lisa yang periang juga
Haruskah aku bersikap sinis terus padamu
Haruskah kau memandangku dengan tatapan itu
38 tahun sudah aku bersamamu
Dalam sinis dan kosong
Kini … kusadari
Kehangatan pandanganmu merasuk jiwaku
Kegelisahan merayapi diriku pabila engkau tak disini
Cintakah aku ?
Kini rambutmu sudah memutih ,
Badanmu tidak segagah dulu
Engkau tidak bersamaku lagi
Engkau sendiri dikamarmu dan aku disini
Tapi
Tatapanmu hangat kurasakan
Kemana aku selama ini ,
Kenapa aku begitu ?
Oh Tuhan jangan biarkan kehangatannya pergi
Biar , biarkan aku merasakannya
Biarkan aku tetap disisinya
Sebelum terlambat.
Jakarta ,Jumat, 08 Juni 2007, 12.39
Diilhami Cerpen Hujan yang dimuat pada myrmnews.com

Hehehe, par habinsaran ternyata bisa puitik juga.
Lae termasuk orang beruntung, aku buat postingan yang absolutly dedicated sama Lae. Check it out!
Horas!
*Habinsaran : hahahaha aku lagi belajar lae, postingannya sama berarti mood saya dan lae Toga moodnya lagi sama , makasih
salam sastra.
Puisinya bagus mas. Lebih bagus dari cerita saya malah.
Thanks, jabat erat sastra selalu.
tabik
hujan
* Habinsaran : aku sangat tertarik baca cerpennya mas, sangat menyetuh perasaan salam kenal
omong-omong, aku ini juga orang karo kok lae.
hehehe. mejuah-juah
*Habinsaran : Wah ketemu kawan sekampung dari sumatera , menjuah-juah , tapi aku salut dengan tulisan lae
dang jago puisi nai