Nungga matua hape…
Eh tahe sohaulak han be mulak poso ,nungga matua hape (sudah tua ternyata), di ilhami dari tulisan seorang sahabat beberapa hari yang lalu, pada blogberita.com yang berkantor pusat di Tepian Danau Toba – Balige dan disiarkan secara langsung dari sana secara live
hehehe…
Wajahku sangat menawan hati mereka
Kegagahanku menggairahkan birahinya
Aku dipanggil kuda ,
kuda tunggangan nan perkasa
Kau, kamu dan dia mata airku
Kau, kamu dan dia penikmatku
Istriku mari
Belikanlah gelang dan perhiasan untukmu
Anakku ini uang untukmu,
Aku mencintai kalian
Jangan bertanya dari mana kudapat itu
Kini,…
Hari-hariku semakin sulit kujalani
Bau lumpur dan berbau busuk
Tulangku sudah gemerutuk beradu
Sum sumku terasa kerontang
Tuhan bila tiba waktunya apakah aku sanggup menhadapMU
Tuhan aku malu, pada hidupku
Tuhanku masihkah pantas kupertahankan hidupku
Aku akan tertawa,
dan
aku akan tertawa
Walau air mataku tak pernah berhenti
Sesal bergayut , bergelantungan membakar jiawaku,
*)Mengkel Nama Au..unang holsoan Au,
Didekat Patung Jend. Sudirman, 12.37,27.Jul.2007.ss

Cerita Lae Suhunan itu emang begitu menginspirasi ya… Makin lama, makin puitik pulak Lae kutengok. Bah, sudah margaya ala abdi dalem kraton pula si junior itu kulihat.
*Habinsaran : Hahahaha biar nanti dia jadi manusia yang berjiwa nasional dengan semangat darah daerahnya lae .
botullah itu yang dibilang lae toga; makin puitis lae sahat ini sekarang. aku jadi curiga. jangan-jangan … jangan-jangan ….
ah, tak enak meneruskannya, nanti nyonya sahat jadi tak tenang tidur.
*Habinsaran :
Bah …. kalau puisi ini dibaca Tongam Sirait bisa jadi lagu populer ……….
Unang mandele lae, ai di Tornagodang bolak dope tano, manuan tommat hita disi…
Gabe Mengkel Nama Au……………. He…. He….
*Habinsaran : Ima tahe, horas lae bah … nungga masihol iba tu huta