Hamoraon, Hasangapon, Hagabeon .

2007 Juli 31
by sahat

Hamoraon , Hagabean, Hasanganpon 3 H , Ketiga kata itu telah menjadi salah satu pijakan orang batak dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari, tetapi tidak menutup kemungkinan pada saat ini dengan adanya perkembangan jaman ketiga hal diatas mengalami kemuduran secara perlahan – lahan, hal ini tidaklah salah, sah-sah saja.
Namun perlu diingat bahwa 3 H diatas bukanlah falsafah hidup orang Batak yang menjadi falsafahya adalah Dalihan Natolu “Somba marhulahula, Elek marboru, Manat mardongan tubu”.
Hamoraon : Kekayaan ini pasti selalu dicari oleh orang Batak, yang walapun belum tentu semua orang akan bisa mendapatkannya, dan ini sangatlah disadari, jadi kekayaan bukanlah melulu materi yang belimpah sebab anakpun bisa menjadi sebuah kekayaan, makanya ada kata “Anakkonhi do hamoraon di ahu” (anakkulah harta kekayaan bagiku) seperti pada bait syair lagu yang diciptakan oleh Nahum Situmorang.
Ada beberapa umpasa yang berhubungan dengan keinginan orang Batak dalam hal kekayaan dan sering disampaikan pada saat pesta – pesta adat , berikut ini beberapa kutipannya:

  1. Tangkas ma jabu suhat tangkasan ma jabu bona. Tangkas ma hita maduma tangkasan ma hita mamora.
  2. Tonggi ma sibahut tabo ma pora-pora. Gabe ma hita huhut jala sude hita mamora.
  3. Simbora gukguk, sai mamora ma hita luhut!
  4. Tinaba hau sampinur di tombak simarhora-hora. Sai lam matorop ma hamu maribur lam marsangap jala mamora.
  5. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Hagabeon : Keturunan dalam kehidupan orang Batak adalah sesuatu yang pokok harus ada karena orang Batak selalu memperhatikan garis keturunan dalam silsilah, cuma yang jadi ganjalan dalam hati saya hingga saat ini adalah kalau orang Batak hanya punya anak perempuan yang tentunya tidak akan pernah tertulis dalam silsilah apakah ini masih bisa disebut Hagabeon. ,mungkin hal ini perlu jadi pemikiran halak hita kedepan karena tidak semua orang akan dikarunia oleh Tuhan anak laki-laki.
Kalau jaman dahulu apabila satu keluarga belum memiliki anak laki-laki, sang ayah boleh untuk menikah lagi untuk mendapatkan anak laki-laki dari perkawinannya yang baru itu, entah untuk jaman sekarang ini apakah hal itu masih relevan.
Umpasa – umpasa yang berhubungan dengan keinginan orang Batak dalam hal hagabeon :

  1. Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru, Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
  2. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang, Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
  3. Ruma ijuk tu ruma gorga, Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.
  4. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon, Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Hasangapon : Pangkat, Jabatan dan Kedudukan, kalau ini bisa didapat puji syukurlah tetapi kita pun sadar tentunya tidak semua orang pula yang memiliki ini, tetapi biarpun begitu hasangapon bisa didapat dari keturunan kita kelak, asal jangan seperti cerita kawanku ini agak nyimpang dari konteks “Dia sedang naik bus kota dan kondisinya cukup penuh sesak, dan pada saat dia turun dari bus tersebut dia berujar : Dari kenaikan sampai ke keturunan tidak pernah mendapat kedudukan “
Umpasa yang berhubungan dengan keinginan orang Batak dalam hal hasangapon :

  1. Tangki jala hualang, garinggang jala garege. Tubuan anak ma hamu, partahi jala ulubalang,Tubuan boru par-mas jala pareme.

Masih banyak lagi yang menjadi isi dari 3 H yang saya sebutkan diatas, biarlah nanti itu menjadi pebahasan pada lain hari , terimakasih.

Satu Tanggapan leave one →
  1. 2007 Agustus 2
    nesia permalink

    Hamoraon, hasangapon, hagabeaon, jelas penting. Tp bukan yg terpenting, karena tidak semua orang bisa mendapatkannya, seberapa keras pun dia berusaha. Boleh kita usahakan, dengan kerja keras, tonggo, tangiang, dan umpasa, namun pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang terjadi.
    Berbeda dengan somba, elek, dan manat, itu sepenuhnya berpulang kepada diri kita, apakah kita mau memeliharanya di dalam hati atau tidak.
    Gagal mendapatkan 3 H, sama sekali bukanlah hailaon, tetapi tak punya dalihan natolu? Tu sadai mai.
    Horas Laeku. Salam untuk orang-orang yg Lae cintai.
    *Habinsaran : Saya setuju laeku Dalihan Natolu harus tetap dipertahankan

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS