Receh Dermawan

2008 Januari 22
by sahat

Suatu ketika saya menumpang mobil seorang kawan. Di celah antara dua
bangku depan, ia meletakkan sebuah kaleng berisi uang receh.

“Ini untuk ongkos parkir, ya?” saya bertanya.

“O, bukan,” jawabnya. “Itu kebiasaan ayah saya. Ia selalu menyediakan
uang receh untuk diberikan pada pengemis atau pengamen di jalan.”

Saya mencelos. Berbeda sekali dengan sikap saya selama ini! Jangankan
sempat menyiapkan uang, saya malah lebih sering merasa terganggu
kalau ada pengemis atau pengamen mendekati saya sambil meminta
sedekah. Saya berdalih, di dompet saya tidak ada uang receh.
Sebenarnya itu hanya alasan untuk menenteramkan hati. Kalau saya mau
jujur, saya memang tidak berusaha menyiapkan uang untuk didermakan.
Dengan kata lain, saya pelit.

Jemaat-jemaat di Makedonia jauh dari sikap pelit ini. Mereka sendiri
tengah dibelit berbagai persoalan dan didera kemiskinan. Namun, hal
itu tidak menumpulkan kemurahan hati mereka. Sebaliknya, mereka
dengan penuh sukacita dan sukarela memberikan bantuan melampaui
kemampuan mereka. Kedermawanan mereka ini sangat menyentuh Paulus,
sehingga ia menggunakannya untuk menggugah jemaat Korintus agar
meneladani sikap tersebut.

Kedermawanan yang sejati rela berkorban demi kesejahteraan orang
lain. Namun, kebajikan semacam ini tentu tidak muncul begitu saja.
Untuk menepis sikap pelit dan belajar bermurah hati pada sesama, kita
perlu melatih, membentuk, dan mengembangkan kedermawanan mulai dari
taraf yang sederhana — mungkin seperti ayah kawan saya tadi.

dari : e-RH

3 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Januari 26

    Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah. Salam!

    http://www.lintasberita.com/Lokal/Receh_Dermawan/

  2. 2008 Januari 29

    kita
    perlu melatih, membentuk, dan mengembangkan kedermawanan mulai dari
    taraf yang sederhana

    Pas banget tuh!!!

  3. 2008 Februari 9

    Syalom abang… Horas… Senang bisa singgah ke blog ini. Jadi teringat ma kampung :)

    Aku sebenarnya lahir dan besar di Jakarta tapi sekarang lagi kuliah di Medan dan keluarga sekarang tinggal di Siantar.

    Kampung kami di Pangururan Parsoburan tapi dah lama gak kesana. Seingatku baru 3 kali aku kesana dan terakhir 4 tahun lalu. Ga tau lagi gimana perkembangan disana.

    Oiya… abang sekarang berdomisili dimana?

    *Habinsaran : saya berdomisili di Bekasi – Jabar

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS