Marga Pardosi
Tulisan ini saya angkat dari sebuah komentar yang masuk dalam Blog ini , semoga ini bermanfaat bagi saudara-saudaraku yang bermarga Pardosi, dan bisa menjadi bahan yang membawa kebaikan bagi semua marga Pardosi yang berasal dari Parsoburan , semoga Tugu Persaudaraannya yang berlokasi di Parsoburan bisa segera diresmikan, Horas selamat membaca.
Marga Pardosi berasal dari marga Siagian. Dan siagian mempunyai saudara Panjaitan,Silitonga,dan Sianipar.
Siagian ada dua, yaitu: Siagian padean duri dan Papaga Lote.
Pardosi merupakan keturunan Siagian Papaga Lote.
Alkisah di sebuah daerah ( kemungkinan besar di Porsea )
tinggal dua org kakak beradik.
Karena ada yang mau diperbaiki sementara alat berupa pahat tidak ada, maka sang adik ( Op. Dongan ) meminjam pahat kepada kakaknya.
Akan tetapi tanpa diketahui dengan jelas apa penyebabnya pahat tadi hilang. Kakak dari Op. Dongan tadi menuntut agar pahatnya dikembalikan.
Karena dicari kemana-mana tak ketemu juga, maka sang adik berniat untuk menggantinya. Akan tetapi Sang kakak tidak mau menerimanya. Walau sudah dibujuk berkali2, tetap saja sang kakak meminta pahat yang asli harus kembali dan takmau diganti.
Entah karena kebetulan / mukjijat, pahat tersebut akhirnya ditemukan. Dan yang anehnya yang menemukan pahat tadi adl anjing dari Op. Dongan.
Saking dongkolnya dengan sikap kakaknya, setelah mengembalikan pahat tsbt maka maka Op. Dongan tidak mau tinggal bersama kakaknya lagi.
Kemudian dia berikrar bahwa setiap keturunannya akan menjadi marga Pardosi. Dan setiap keturunannya tidak boleh memakan anjing yang warna kulitnya berwarna belang ( Si bolang ).
Selama dia tinggal di Porsea dia mempunyai seorang anak, dan sang anak tetap tinggal di Porsea. Dialah yang merupakan nenek moyang marga Pardosi yang ada di Porsea.
Kemudian dia pergi kearah Habinsaran ( Arah terbit matahari ). Dan menetap disana. Pada suatu hari Op. Dongan pergi memancing keSibintatar ( jln menuju Lumban Balik ).
Disana ia bertemu wanita hamil yang hendak bunuh diri.
Karena merasa kasihan, beliau memungut wanita tsb sampai bersalin. Perlu diketahui bahwa Op. Dongan tdk menikahi wanita tsbt. Setelah melahirkan, tanpa sepengetahuan Op.Dongan, wanita tsbt pergi secara diam2 ,dengan meninggalkan anaknya.
Akhirnya anak yang lahir tadi dipungut oleh Op. Dongan dan diberi gelar Op. Tamba ( alias Pamahar ) .Op. Dongan menetap di Parsoburan
Selang beberapa waktu, Op. Dongan menikahi seorang wanita boru Naiborhu, yang kemudian memberikannya keturunan.
Anaknya yang Sulung Yang bergelar Op. Ledung tinggal di Parsoburan.
Anaknya yang kedua pergi ke Leantondung ( kampung tetangga Parsoburan )
Yang ketiga pergi merantau ke Garoga
Sedang yang bungsu ( Raja Pamahar ) pergi ke Pakkat. Dalam sebuah sejarah dikatakan bahwa Raja Pamahar ini kemudian diangkat jadi Panglima oleh Sisinga Mangaraja V
Sampai sekarang tugu marga Pardosi belum disahkan ( dipestakan ), karena perselisihan/ perebutan hak anak sulung.
Keturunan dari Op. Tamba mengklaim bahwaOp. Tamba adl anak Sulung. Hal ini mereka katakan karena Op. Tamba duluan lahir dari Op. Ledung.
Sedangkan menurut keturunan Op. Ledung, Op. Ledung adalah anak sulung. Hal itu mereka katakan karena menurut mereka bahwa Op. Tamba adl bukan keturunan langsung dari Op. Dongan, melainkan anak pungut. Jadi menurut mereka Op. Tamba tdk berhak atas hak anak sulung.
Nah bagi rekan2 kaum muda sebaiknya kita mampu menjadi penengah dalam peselisihan ini, sehingga tugu marga Pardosi dapat berdiri dan disahkan.
Sehingga marga Pardosi dapat dirajakan. Dgn demikian cita2 Nenek moyang kita ( Op. Dongan ) dapat terwujud.

Dari ceerita di atas, Marga Pardosi lahir dari kebencian dan sakit hati yang turun-temurun. Sementara warganya kebanyakan beragama Kristen. Siapakah yang harus diikuti, wasiat yang didasari kebencian atau kasih yang dari Tuhan yang Maha Kasih.
Saran saya sebagai sesama keturunan Sibagot Ni Pohan, sebaiknya marga Pardosi di hapus saja dan kembali ke Marga Siagian. Kalau menggunakan kasih dari Op. Dongan yang menjadikan anak hilang menjadi anaknya apa salahnya Op. Tamba menjadi yang paling sulung. Atau sebaliknya apabila Op. Tamba mengaku bahwa dia anak pungut apa juga salahnya mereka mengaku menjadi anak paling bungsu. Saya kira jika semua dilakukan dengan rendah hati bukan karena kesombongan niscaya semua bisa diselesaikan dan mendapat berkat dari Surga, dan apabila tidak Tuhan juga tetap akan memberikan ganjajaranNya sendiri.
Maka jadilah tidak menjadi sombong!!!.
Semoga tidak ada kebencian dalam hati kita
Tetap berjaya PARDOSI… Cerita diatas adalah sejarah walaupun pardosi berasal dari awal sakit hati. Tapi itu dulu, karena kita orang kristen sudah tentu bisa memaafkan tapi tidak harus merubahnya menjadi siagian. Biarlah sejarah tetap sejarah dan kita yang sekarang saling mengasihi sesama manusia….
Tulisan yang menarik sekali… walaupun saya tidak ada silsilah dengan Pardosi… saya setuju dengan saran Lae Salngam…. seharusnya ada toleransi dan pikiran yang bersifat Persaudaraan, jadi harus ada yang mengalah untuk menang…. agar kiat semua bisa hidup tenang dan penuh Perdamaian….
Maaf saya memberi sedikit komentar..
Tak seharusnya kita bgtu gampang menyatakan agar Pardosi dihapuskan.. Justru kita sharusnya membawa marga kita ini ke arah perdamaian..
Kalau tanggapan spt tggapan salgam di atas, lbh baek tak dpikirkan lebih dulu drpd lbh banyak lg yg sakit hati..
Kita adalah pardosi dan kita brjuang untuk keutuhan pardosi..
Semangat untuk stiap anak/boru pardosi..
TYM..
Maaf saya memberi sedikit komentar..
Tak seharusnya kita bgtu gampang menyatakan agar Pardosi dihapuskan.. Justru kita sharusnya membawa marga kita ini ke arah perdamaian..
Kalau tanggapan spt tggapan salgam di atas, lbh baek dpikirkan lebih dulu drpd lbh banyak lg yg sakit hati..
Kita adalah pardosi dan kita brjuang untuk keutuhan pardosi..
Semangat untuk stiap anak/boru pardosi..
TYM..
Sebenarnya kata pardosi berasal dari parbosi.
Menurut sahibul hikayat, secara singkat : ada dua bersaudara dari keluarga siagian bertengkar, salah satu pergi ke arah Parsoburan.
Ketika dia saat berjalan, besi yang dibawanya selalu berbunyi. Orang bertanya siapa yang lewat. Ai PARBOSI i do i. Ya, seiring waktu, terjadilah proses perubahan kata dari Parbosi menjadi Pardosi. Sukar dijelaskan mengapa demikian.
Ada lagi cerita tentang Pardosi ini bahwa selama perjalananya menuju Parsoburan, ia ditemani anjing berwarna putih. Itulah sebabnya marga Pardosi ini tidak boleh membunuh anjing berwarna putih.
Dapat ditambahkan, bahwa hingga saat ini, sebenarnya tidak pernah ada semacam “perang saudara” antara Siagian dan Pardosi seperti yang ada pada marga lain. Pardosi adalah bahagian dari Siagian, jelas darimana kampung asalnya: yaitu kecamatan Sigumpar sekarang. Kalo nggak salah dari sekitar Banualuhu. Tidak ada alasan untuk menghapus marga Pardosi ini. Marga ini merupakan bahagian sejarah perjalanan hidup suku Batak dalam migrasi-nya ke daerah lain.
Cerita yang sangat Menarik….
Ikutan Commet ya!!!
Cerita diatas sama sekali tdk menarik. krn cerita yang mempengaruhi generasi sekarang ikutan keliru. Hanya karena tutur Abang ato adik Tugu gak jadi pesta. Sebaiknya kalo mau ngikutin cerita diatas sebaiknya “ngalahlah yang memang mestinya ngalah” , dan bila perlu ngalah semua, gak ada gunanya… apalagi msh sesama Pardosi, gimana lg dengan kami yang sesama keturunan Tuan Dibangarna, Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar. bisa-bisa gak dianggap appara lg. Jadi untuk apparaku pardosi terutama yg masih muda jgn terbawa emosi oleh cerita yg konyol itu. Tuh Terjadi ribuan tahun yg lampau, masa mau kita bawa-bawa sampai diabab yang sudah sangat maju ini. oke… Peace….
saya setuju memang kejadian yang sudah lama terjadi ga perlu utk diulas terus menerus,saya kecewa knp tugu pardosi ga jadi2,itu pas didepan rumah saya……parsoburan!!!! bwt angk muda pardosi hilangkan dikriminasi bgmn carana kta jaya itu yang penting!!!!
Pro sahat: Setelah saya baca beberapa versi cerita yang anda sekalian buat. Dapat saya katakan, bahwa ada beberapa cerita diatas terlihat seperti karangan di lapo tuak. Dan, itu seharusnya tidak dipublikasin disini, karena akan membuat persepsi yang semakin tidak jelas tentang marga pordosi. mauuuliate…….
Horas,
terus terang saya sebagai marga pardosi sebelumnya tidak mengetahui ttg sejarah marga pardosi,tp setelah Bapak saya yg kebetuLan sudah fasih dan sangat mengerti adat batak (menurut saya), saya jd tertarik untuk mencari tau Lebih banyak lg ttg pardosi, dan tidak hanya untuk saya saja tetapi kebetulan hal ini menjadi pembicaran hangat di Lapo Tuak yg dimiliki Bapak saya, jd sambiL minum tuak tambuLnya saksang b2 dan ngobroL2 ttg adat istiadat batak.
Dan saya yg masi terbilang muda jd ingin menambah wawasan saya ttg batak.
saya bangga menjadi orang BATAK.
Pardosi tetap pardosi, sejarah tetap sejarah, pesan Bung Karno jangan pernah lupa dengan sejarah, karena sejarah adalah awal dari segalanya sampai saat ini, itu tidak perlu diributkan karena pardosi sudah menjadi suatu marga tersendiri yang berasal dari Siagian Raja, jadi jangan diributkan karena diributkan bisa-bisa marga pada orang batak jadi tidak ada lagi, jadi berpanutan kepada asal nenek moyangnya, siagian, panjaitan, sianipan, silitonga jadi ga ada yang ada jadi Tuandibangarna, sehingga hal itu tidak perlu di persoalkan saat sekarang ini Mauliate.
Memang kita tidak boleh meninggalkan sejarah. Tapi, ada beberapa cerita fiktif dalam sejarah tersebut yang harus kita buang, apalagi sifanya provokasi.
Ayo Kita Satukan Pardosi….!!!
Pardosi adalah marga yang besar. Pardosi tetap satu, walaupun mempunyai 2 keturunan dari op ledung dan pamahar. Prinsip “satu” marga itu yang harus perlu kita tanamkan dalam hati kita.
saya setuju memang kejadian yang sudah lama terjadi ga perlu utk diulas terus menerus,saya kecewa knp tugu pardosi ga jadi2,itu pas didepan rumah saya……parsoburan!!!! bwt angk muda pardosi hilangkan dikriminasi bgmn carana kta jaya itu yang penting!!!!
mauliate godang la ya…sudah tau sedikit lah aku sian dia Pardosi itu rupanya..
Salam Ya..
Horas
Horas…
Pardosi akan semakin besar bila keturunannya banyak yang sukses..MARBADA TAK PERLU. PRESTASI YES…….
ya ini saya juga pardosi dari pakkat oppung saya raja / kepala adat op.nurut pardosi asalnya dulu memang dari parsoburan