Tornagodang dan Parsoburan


*Habinsaran : untuk lae Haviter Pardosi

Aku jadi teringat masa kecil dulu kala itu kami berjalan-jalan ke Tornagodang berjalan di pematang sawah di Lobu sihandangon jalan menuju Tornagodang, setelah melewati jalanan menurun yang cukup terjal kita akan melewati sebuah jembatan kecil yang dibawahnya melintas Aek Gorat, begitu kita melintasinya kita harus meneriakkan kata “Boa” hingga tiga kali karena kita akan melewati sebuah pancuran air (tempat mandi) isyarat itu memberitahu bahwa kita mau lewat kalau tidak ada jawaban kita boleh meneruskan perjalanan untuk melewati pancuran, kalau ada jawaban “Maridi=Mandi” dan terdengar suara perempuan kita wajib untuk berhenti menunggu sampai ada aba-aba dari mereka bahwa mereka telah selesai mandi, sungguh sebuah tatanan adat yang sangat indah, tidak asal slonong boy .

Begitu kita melewati pancuran inilah awal sebuah perjuangan untuk melintasi jalanan yang cukup terjal menanjak kearah atas menuju kampung Tornagodang, sebuah kampung yang menyenangkan, warga marga yang bermukim disana adalah marga Pane, Pardosi, Panjaitan ,Silaen dll. Dari kampung ini banyak orang yang berposisi baik dalam pendidikan dan pemerintahan di Tobasa, mungkin karena ditempa perjuangan untuk sekolah tingkat lanjutan di Parsoburan, setiap hari mereka harus berjalan kaki tidak peduli hujan dan panas terik bahkan disana ada keriangan, seperti cerita kawanku Haviter Pardosi

6 Tanggapan

  1. Apa sekarang masih pake “alarm najolo” dengan teriakan “baoa”, kalau mau lewat “paridian” di Aek Gorat itu. Jangan-jangan sudah pake alarm elektronik. Saya juga jadi ingat cerita seperti itu kalau mau ke “mual” di kampung, tapi itu waktu jaman saya masih umur dibawah 7 tahunan. Sekarang, udah lama tidak pulang kampung, jadi kebiasaan sehari-hari seperti itu sudah tak sempat diamati.
    *Habinsaran : Entahlah lae masih dipake atau tidak, jadi rindu kampung halaman saya jadinya

  2. Nah…, makin dalam ini Lae, saya jadi kembali ke tahun 1973-1976 saat saya mengalami semua itu ketika masih sekolah di SMP itu, dan lebih dalam lagi baik dikantor maupun dirumah jadi kecanduan mau cepat cepat buka HABINSARAN .
    Betul, sangatlah luar biasa serba kekurangan pada masa itu, bisa bayangkan kalau mau sekolah dini hari buta kita harus makan dari rumah sekenyang kenyangnya dengan maksud agar dapat bertahan hingga melewati batas waktu kembali kerumah selepas jam sekolah untuk dapat makan siang , sebab berangkat sekolah kita takkan pernah mengenal yang namanya “Jajan” sekedar mengganjal perut supaya gak terlalu lapar, berhubung memang kita tak pernah dapat uang jajan harian seperti anak anak sekarang ,kecuali pada saat ” Onan ” ( Waktu itu hari selasa ) kita akan kebagian beberapa rupiah dari hasil jualan kopi orang tua , dan pada hari biasa kalaupun ada diantara kita yang punya sedikit uang sekedar untuk beli pisang goreng , tapi tak ayal dengan semangat solidaritas akan terbelah menjadi bagian yang sangat kecil dan bahkan hanya nempel di sela sela gigi. Sehingga untuk mensiasati kondisi ini timbul Manajemen Strategy yang sudah melekat di anak anak dari Tornagodang yaitu :
    1. Rajin menemani orang tua ke kebun kopi suapaya dapat bagian dari hasil jual kopi .
    2. Pintar pintarlah berkawan biar dapat bagian yang kecil tadi.
    3. Sambil berjalan pulang lirik kiri kanan mana tau ada buah dikebun yang dapat dimanfaatkan.
    4. Berlarilah sekencang kencangnya ( Gas habis ), supaya cepat tiba dirumah untuk dapat mengejar makan dengan porsi yang sudah pasti paspasan dengan sepotong ikkan gulamo.
    Dengan manajemen ini , mereka akan bisa survive untuk 3 tahun dan setidaknya menamatkan pendidikan di SMP.
    Waduh Lae, Jadi rindu juga nich pengen pulang kampung. Thanks berat atas ceritanya dan teruslah menulis tentang Parsoburan, saya yakin akan banyak yang akan kecanduan dgn HABINSARAN. Horas.
    Best Regard
    W.Haviter Pardosi
    *Habinsaran : Laeku Haviter ,terimakasih atas dukungannya sangatlah sulit mencari teman berbagi dari kampung kit sana, entah kenapa padahal aku sering cari-cari, jadi blog ini timbul karena aku sudah agak capek nyari teman satu kampung mudah-mudahan bisa kumpul, ohya lae aku lulus dari SMP Negeri Parsoburan Thn 1983, jadi mungkin saya lebih muda dari lae/tulang kali aku manggilnya , Namaku Sahat Maruli Tua Sipahutar

  3. Dalam etika Batak disebut, mar”boa” lau tu tapian, “manunjang” laho tu jabu.
    Pengertian “marboa” hampir sama dengan “manunjang” tadi.
    Tangga rumah biasanya dari kayu. Dari tangga pertama kita harus menghentakkan kaki agak kuat agar didengar seisi rumah. Sehingga ada kesiapan penghuni rumah menata sikap duduknya dan tata pakaiannya agar lebih sopan menyambut siapapun yang mau naik kerumah.
    Tornagodang sudah pernah saya kunjungi sekitar 10 tahun yang lalu. Pemandangan di kebun teh sungguh indah. Konon teh dari Tornagodang adalah yang terbaik di Indonesia. Dari pabrik teh itu kami diberi contoh teh yang di ekspor. Waduh….. saya baru sadar, teh yang selama ini saya minum adalah sampah bahan ekspor. Sampai saat ini saya sulit menemukan kualitas teh seperti teh Tornagodang itu.
    Saya melintas sampai ujung Tornagodang, disana banyak marga Silaen. Ada pemandangan yang memukau hati saya disana, sebuah bukit batu di kejauhan. Saya lupa namanya, apakah “batu manumpak”?
    Lain waktu bila ada kesempatan saya berencana kembali kesana untuk mengabadikan Tornagodang.
    Bila ada memiliki fotonya, bila tidak keberatan berbagi saya sangat senang.
    Sejak dulu saya menyebut Habinsaran (sebelum dimekarkan menjadi 3 kecamatan) adalah mutiara terpendam. Banyak potensi alamnya yang sangat menggiurkan bila dikembangkan. Sayang, jalan kesana kurang terawat, ate lae?
    *Habinsaran : Mauliate, dikunjugan muna , Habinsaran memang menyimpan bayak cerita yang masih samar diketahui dan potensi alam yang begitu besar ,ya seperti lae katakan jalannya tidak terawat dan akibat ulah dari Indorayon , cerita tentang Batu Mardinding, Batu Manumpak dan Galung akan saya tulis .

  4. Horas !
    Saya kebetulan cucunya orang Parsoburan, Bapak saya berasal dari Tornagodang, Ibu saya ya itu di sebelah Pancur dekat Jembatan itu, dan pancuran ini khusus untuk kaum perempuan, nama kampungnya Buluduri. Kalau dulu kita mau lewat memang harus kasi tau, dengan meneriakkan “Baoa” (artinya kalau ngak salah : orang yang mau lewat / yang meneriakkan “Baoa” itu laki-laki), jadi kita harus menunggu beberapa detik, sampai ada sahutan, tapi kalau beberapa detik kemudian tidak ada sahutan, itu tandanya tidak ada orang mandi, dan kita bisa lewat. Tapi sekarang ini kayaknya hal itu tak ada lagi, karena hampir tiap tahun saya pulang ke Buluduri/Parsoburan, tapi ketika mau melewati pancuran itu, tak terdengar lagi teriakan seperti itu, saya juga kurang tahu apa sebabnya. Tapi yang pasti Parsoburan memang selalu saya rindukan, cuma jalan kesana itu kurang mendapat perhatian dari Pemerintah, bahkan ada beberapa titik longsor padahal hasil pertaniannya banyak, seperti : Kopi, Hamindjon, Andaliman, dll. Harapan kita, kiranya Pemerintah mau memperbaiki jalan kesana, agar kita bisa dengan aman mencapai kampung tercinta “Parsoburan”.
    *Habinsaran : salam kenal lae, itu harapan kita semua

  5. Horas….nama saya Anthony R Panjaitan. Tornagodang adalah kampung Almarhum Bapak saya (Ir. Maraudin Pandjaitan, Dipl. Ing Petrochem). Waktu saya kecil, hampir 2 tahun sekali kami diajak pulang ke Tornagodang… dulu setiap mau pulang kampung selalu terlintas dibenak pikiran saya nikmatnya bermain ditornagodang….melihat kebun teh, kebun kopi, sawah dan mandi disungai kecil….walaupun udaranya sangat dingin tapi tetap senang rasanya. Tgl 26 Juni 2012 kemarin baru saja kami pulang ke Tornagodang, namun tanpa Bapak..kondisi sekarang memprihatinkan karena kebun teh sibosur tidak terawat… semoga pemerintah memberikan perhatiaannya untuk Tornagodang supaya makin maju kampung kita…. Walaupun saya lahir di Jakarta namun saya bangga pada Tornagodang… Saya juga bangga dengan penulis Blog ini….GBU.

  6. Tabonai taheng tiki masa-masa dakdanak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: