Lebih enak jika terus berdiri


Seminggu ini kita telah penat dalam pekerjaan kita masing-masing, sekarang akhir minggu besok kita akan bersantai beristirahat, untuk menambah sedikit keriangan dalam diri anda, saya hadirkan sebuah cerita humor disini, mudah-mudahan bermanfaat,

“Setelah menghadiri kebaktian Minggu pagi bersama orang tuanya, seorang
anak laki-laki tiba-tiba berkata kepada ibunya, “Ma, aku memutuskan
untuk menjadi seorang pendeta jika aku besar nanti.”

“Hmmm …, tidak masalah bagi kami,” kata ibunya, “Tapi kok kamu
memutuskan untuk jadi pendeta?”

“Gini loh, Ma,” jawab si anak, “Waktu aku besar nanti, aku pasti akan
pergi ke gereja di setiap hari Minggu, bukan? Jadi, aku rasa akan
lebih enak jika terus berdiri dan berbicara daripada hanya duduk
sepanjang jam dan mendengarkan.”

Dari : e-Humor

4 Tanggapan

  1. Cita-cita si anak mengingatkan saya atas cerita seorang pendeta teman saya.
    Saat itu kami atas permintaan KSPPM melatih masyarakat Di Samosir. Beliau menggambar walau terpaksa menyerupai gambar 2 kepala manusia. Gambar pertama telinganya besar tapi mulutnya kecil. Yang satu lagi telinganya kecil, mulutnya besar.

    Beliau minta peserta menebak apa arti gambar itu, tidak ada yang mengerti. Dan saya sendiri tidak mengerti walau sudh termasuk fasilitator pelatihan.

    Beliau menjelaskan :
    Gambar pertama adalah rakyat, hanya wajib mendengar tidak diberi kesempatan bicara.
    gambar kedua adalah pejabat, besar mulut, suka bicara, seenaknya memerintah susah medengar suara rakyat.

    Benar juga itu si anak…………….. ha… ha… ha….

  2. Saya jadi teringat teman saya seorang pendeta marga Siregar. Kami sama sama narasumber pada pelatihan organisasi rakyat di Samosir atas permintaan KSPPM.
    Beliau menggambarkan 2 kepala manusia; 1. Telinga besar, mulit kecil. 2. Telinga kecil, mulut besar.
    Beliau minta pendapat peserta arti gambar itu. Tidak tau, dan saya sendiripun tidak tau.
    Beliau menjelaskan : Gambar pertama adalah rakyat; hanya mendengar dan tidak mampu bicara. Gambar kedua adalah pejabat, mulut besar, pintar bicara, suka merintah, tapi tidak mampu mendengar suara rakyat.
    Pintar juga itu anak ………….. ha………ha……… kenapa tidak sekalian jadi pejabat ya……….
    *Habinsaran ; Iya pula ya lae…

  3. Apa kabar bung ?
    baik-baik saja , kalau bung gimana ? ada dibali kan ? bali sedang ramai yah ?

  4. Tapi itu anak ada betulnya bang menurutku, lebih baik kita jadi orang yang aktif daripada sekedar pasif… 🙂
    *Habinsaran : Aku setuju ,salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: