Receh Dermawan


Suatu ketika saya menumpang mobil seorang kawan. Di celah antara dua
bangku depan, ia meletakkan sebuah kaleng berisi uang receh.

“Ini untuk ongkos parkir, ya?” saya bertanya.

“O, bukan,” jawabnya. “Itu kebiasaan ayah saya. Ia selalu menyediakan
uang receh untuk diberikan pada pengemis atau pengamen di jalan.”

Saya mencelos. Berbeda sekali dengan sikap saya selama ini! Jangankan
sempat menyiapkan uang, saya malah lebih sering merasa terganggu
kalau ada pengemis atau pengamen mendekati saya sambil meminta
sedekah. Saya berdalih, di dompet saya tidak ada uang receh.
Sebenarnya itu hanya alasan untuk menenteramkan hati. Kalau saya mau
jujur, saya memang tidak berusaha menyiapkan uang untuk didermakan.
Dengan kata lain, saya pelit.

Jemaat-jemaat di Makedonia jauh dari sikap pelit ini. Mereka sendiri
tengah dibelit berbagai persoalan dan didera kemiskinan. Namun, hal
itu tidak menumpulkan kemurahan hati mereka. Sebaliknya, mereka
dengan penuh sukacita dan sukarela memberikan bantuan melampaui
kemampuan mereka. Kedermawanan mereka ini sangat menyentuh Paulus,
sehingga ia menggunakannya untuk menggugah jemaat Korintus agar
meneladani sikap tersebut.

Kedermawanan yang sejati rela berkorban demi kesejahteraan orang
lain. Namun, kebajikan semacam ini tentu tidak muncul begitu saja.
Untuk menepis sikap pelit dan belajar bermurah hati pada sesama, kita
perlu melatih, membentuk, dan mengembangkan kedermawanan mulai dari
taraf yang sederhana — mungkin seperti ayah kawan saya tadi.

dari : e-RH

Iklan

3 Tanggapan

  1. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah. Salam!

    http://www.lintasberita.com/Lokal/Receh_Dermawan/

  2. kita
    perlu melatih, membentuk, dan mengembangkan kedermawanan mulai dari
    taraf yang sederhana

    Pas banget tuh!!!

  3. Syalom abang… Horas… Senang bisa singgah ke blog ini. Jadi teringat ma kampung 🙂

    Aku sebenarnya lahir dan besar di Jakarta tapi sekarang lagi kuliah di Medan dan keluarga sekarang tinggal di Siantar.

    Kampung kami di Pangururan Parsoburan tapi dah lama gak kesana. Seingatku baru 3 kali aku kesana dan terakhir 4 tahun lalu. Ga tau lagi gimana perkembangan disana.

    Oiya… abang sekarang berdomisili dimana?

    *Habinsaran : saya berdomisili di Bekasi – Jabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: