Lazarus Dalam Hidup Kita


“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya…”
Seorang teman berkisah tentang pengalamannya. Suatu hari ketika ia sedang menunggu kereta. Ia membuka Kitab Suci dan mulai membacanya. Maklumlah, saat ini ia pergi untuk memberikan bimbingan retret di Chiay, wilayah bagian selatan Taiwan, dan saat penantian ini bisa diisi dengan membaca dan merenungkan Sabda Tuhan. Ketika ia lagi asyik merenungkan Sabda Tuhan di tengah hiruk-pikuk dan hilir mudiknya penumpang yang datang dan pergi itu, tiba-tiba ia melihat seseorang yang sedang mengorek kotak sampah di dekat tiang yang persis ada di depannya. Karena hal ini merupakan pengalaman yang lumrah, pengalaman yang biasa di stasiun ini, maka ia berbuat seolah-olah tidak melihat adegan tersebut. Ia melanjutkan renungan Kitab Sucinya tanpa perlu menggubris.

Namun suara hatinya kini tidak menjadi tenang. Suara hatinya terus saja tak pernah henti mengadili dirinya. Beberapa menit yang lalu ia telah berpapasan dan menolak membantu seorang pengemis yang meminta untuk dibelikan tiket kereta. Kini seorang lain lagi datang mencari sesuap nasi dengan mengais kotak sampah persis di depan matanya. Namun ia telah memaksa dirinya untuk tidak mau melihat kepedihan sesama yang kini berada di hadapannya itu. Sesungguhnya ia mempunyai kemampuan untuk membantu membeli tiket atau membelikan sekotak nasi bungkus buat orang ini. Bathinnya semakin kuat mengadili; “Apakah gunanya membaca Kitab Suci kalau aku tak bisa berbuat kebajikan secara nyata? Apakah artinya sebuah doa yang khusuk kalau tak diimbangi dengan perbuatan? Bukankah Santu Yakobus pernah berkata dalam suratnya bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati??” Demikian suara hatinya berkelahi dalam dirinya dan terus mengadili dirinya.

Dengan segera ia menutup Kitab Sucinya dan beranjak bangun mencari bapa tua yang berambut putih tersebut. Ia berputar mengelilingi stasiun. Semua lorong di stasiun itu ia telusuri. Ia naik ke lantai atas untuk mencarinya. Namun tak ia dapati orang yang ia cari. Ia hanya bisa mnghembuskan nafas kecewa, dan dalam hati ia membenarkan apa yang sering ia dengar; “Kesempatan untuk berbuat kebajikan hanya datang sekali dan tak pernah berulang kembali.” Namun di tengah rasa kecewanya itu tiba-tiba di kejauhan ia menemukan seorang yang lain, yang juga sedang mengais tempat sampah. “Oh…Tuhanku..!” Ia berdesah dalam hatinya. “Berapa banyak orang di tempat ini yang menggantungkan hidup mereka pada tong-tong sampah di stasiun ini?”

Ia mendekati orang tersebut dan secara ramah berbicara dengannya. Setelah berbicara basa-basi, temanku mengajak teman barunya itu untuk makan siang bersama. “Bolehkah engkau menemaniku untuk makan siang bersama?” Oh… bagaikan tikus yang jatuh di atas beras. Tentu saja orang itu tidak menolak. Orang tersebut dengan gembira hati membawa temanku ke sebuah rumah makan yang walau tak mewah namun bisa memberi kekuatan untuk hidup sehari itu. Puji Tuhan..!! Setelah makan bersama tamu khususnya tersebut, kereta yang dinantikannyapun tiba.

————–
Ternyata ‘Lazarus’ tak hanya menjadi tokoh dalam kisah Kitab Suci yang kita dengar hari ini, hari Kamis pekan kedua masa puasa ini. Dalam hidup kita setiap hari pun ada begitu banyak Lazarus yang dengan tangan terulur menantikan butir-butir nasi yang terjatuh dari meja perjamuan kita. Relakah kita mengundangnya untuk makan bersama kita. Atau mungkinkah kita terlampau repot dengan berbagai urusan lain sehingga tak mampu melihat ‘Lazarus’ yang justru duduk persis di depan pintu perjamuan kita??

“Tuhan…, semoga aku mampu melihat kehadiranMu dalam diri mereka yang kecil dan lemah. Amen!!”

 

dari : Tarsis Sigho – Taipei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: