Negeriku tidak terurus


Malang nian nasib negeriku ini, walaupun ada pemerintahnya tetapi tidak membawa manfaat bagi kami rakyatnya , hampir semua lini tidak pernah disentuh dengan pembangunan , jangankan pembagunan diperliharapun tidak. Jalan-jalan yang rusak dibiarkan semakin rusak , harga-harga bahan pokok yang semakin mahal kelihatannya dianggap sebagai sebuah hal yang lumrah harus terjadi dan harus diterima oleh rakyat yang makin hari makin susah .

Hampir seluruh aparat pemerintah sibuk dengan kehidupan mereka masing -masing , mereka sering kali berwacana dan sangat banyak kalau berbicara dan harus diakui mereka sangat sulit untuk mendengar , entah mereka telah tuli atau kehilangan perasaan kepada rakyatnya sendiri.

Wakil-wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat sebagai wakilnya , ternyata tidak merasa mewakili rakyat lagi padahal janji-janji dahulu waktu masa kampanye mau dengan sepenuh hati membela konsituennya sampai titik darah yang terakhir ,namun apa yang terjadi ? mereka sudah lupa akan semuanya itu, pedih , perih itu yang rakyat rasakan tanpa bisa berbuat apa-apa , nasibmu rakyat bahkan mereka lihat nyaris seperti rayap yang harus dibinasakan dengan segala cara.

Wakil-wakil rakyat berlomba memamerkan keangkuhannya , berlomba menyakiti rakyatnya , partai-patai politik seolah menjadi monsters yang memanyungi para pemiliknya, padahal mereka besar bukan karena mereka sendiri tetapi karena rakyat. waduh kapan yah negeri ini akan diurus ….. , nasib negeriku sudah menjadi negeri yang tidak terurus….

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Negeri kita ini memang sudah menjadi negeri walak-walak, gimana tidak ? kalau kita hitung-hitung, setiap ada pemilu, pileg, maupun pilkada, sebenarnya pemenangnya adalah yang tidak memilih, itulah sebabnya sekarang para pemimpin kita itu merupakan representasi dari kemenangan yang minimum, kalau boleh dibilang, pemimpin sekarang ini bukanlah mewakili rakyat seutuhnya. Contohnya : Pilkada di suatu daerah, rakyat yang ikut memberikan suaranya katakanlah 60% dari jumlah penduduknya, dan pemenangnya berhasil meraih suara 60% dari pemilih yang 60%, itu artinya : pemimpin yang menang hanya mewakili kira-kira 36% dari rakyatnya, artinya setengah dari rakyatnyapun tidak tercapai, kalau kita asumsikan kedalam pemilihan yang sesungguhnya, maka seseorang dikatakan menang (mewakili rakyat seutuhnya) apabila berhasil meraih sedikitnya suara sebesar 50% + 1. Jadi itulah nasib negeri kita sekarang ini, bukan pemimpim seperti yang kita harapkan yang tampil ke permukaan, tetapi pemimpin WALAK-WALAK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: