Mengandalkan Sang Gembala


Mikha 7 : 14-17

Penindasan serta kesewenang wenangan

Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan

Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan

Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Penggalan lagu penyanyi top Indonesia ini, serasa mewakili perasaan kita terhadap apa yang sedang membuat kita galau menjadi bagian dari bangsa ini, dalam banyak hal kita mengalami perbuatan – perbuatan yang tidak sepantasnya, sebagai contoh dapat kita lihat begitu sulitnya untuk membangun rumah ibadah, dan dalam meniti jenjang karirpun seringkali kita diganjal dengan berbagai cara. Didalam kesadaran maupun ketidaksadaran kita seringkali hal ini membuat hati kita galau, dan merasakan ketertindasan .

Kisah ketidak pedulian sering membuat miris hati orang yang berjalan dalam kebenaran Allah, sementara pelaku ketidakadilan semakin arogan, solah-olah sikapnya benar dan baik, sehingga nilai empati dalam dirinya luntur dan ini menjadi awal kemerosotan moral, di mana nilai kebenaran bergeser oleh karena kepntingan dan keuntungan pribadi.

Ketika kemerosotan moral makin berkembang, ketika cinta mulai memudar, maka tidak ada lagi kekuatan apapun yang bisa mengubah keburukan itu untuk membuat manusia bertobat. Manusia, bahkan tokoh agama pun tidak lagi cinta akan Firman Tuhan, tidak menjadikan pelita dalam perjalanannya.

Nabi Mikha , juga pernah merasakan apa yang menjadi kegalauan kita itu hari ini, masa itu pemerintahan Raja Yotam, Ahaz dan Hizkia, Mikha melihat adanya ketidak pedulian dari penguasa, orang kaya dan pemimpin bangsa, bahkan nabi-nabi palsu terhadap orang kecil nan papa dapat kita baca dalam renungan yang tertulis dalam Mikha 7:14 – 17 .

Nabi Mikha tidak berseru – seru begitu saja kepada pemerintah seperti dalam lyrik lagu diatas namun Mikha datang kepada Tuhan , meminta pertolongan-Nya agar apa yang membuat bangsa itu yang merasakan kesewenang wenangan mendapat pertolongan langsung dari Tuhan Allah , dia berkata Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala (14). Keimanan seperti ini adalah sangat luar biasa, bahwa ketika kita merasakan hal yang sama kita lebih cenderung melakukan perlawanan dengan cara kita dengan sekuat mampu kita, dan memang tidaklah terlalu salah hal ini dilakukan ,akan tetapi kita harus menyadari bahwa sebagai anak – anak Tuhan walaupun kita merasakan penindasan dalam berbagai hal oleh saudara-saudara kita yang belum mendapat berita keselamatan itu mari kita mengandalakan DIA sang Gembala yang maha baik biarkanlah terjadi pertolongan Tuhan yang ajaib seperti pada waktu TUHAN membawa bangsa itu keluar dari Mesir .

Dan akan menjadi begitu nyata keperkasaan TUHAN ALLAH kita , mereka yang yang berbuat kesewanangwenangan akan merasakan malu , dan tidak mampu lagi berbicara bahkan mereka menjadi tuli (16), mereka akan menjadi sangat rendah menjalar didebu kotor , menyerah kepada TUHAN dengan gemetar dari kubu pertahanannya.

Terpujilah TUHAN ALLAH kita yang perkasa, sang gembala kita. ( Diaken Sahat Sipahutar/ 25 September 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: